Jami'ah Azzanjabil Laksanakan Kunjungan Akademik ke UIN Ar-Raniry
Banda Aceh - Dayah Terpadu Jami’ah Azzanjabil melaksanakan kunjungan akademik ke Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry Banda Aceh pada Jumat (28/8/2026). Kegiatan yang berlangsung pukul 09.00 hingga 12.00 WIB tersebut menjadi bagian dari rangkaian pembinaan dan pengembangan wawasan akademik santri, khususnya bagi santri kelas akhir yang akan melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.
Kunjungan ini menjadi momentum bagi para santri untuk mengenal lebih dekat lingkungan perguruan tinggi, memperoleh informasi mengenai proses penerimaan mahasiswa baru, serta mendapatkan gambaran mengenai pilihan pendidikan dan kehidupan akademik setelah menyelesaikan pendidikan di tingkat madrasah.
Rombongan Azzanjabil disambut oleh jajaran UIN Ar-Raniry yang mewakili Rektor, yaitu Wakil Dekan Psikologi Prof. Syafrilsyah, didampingi Koordinator Admisi UIN Ar-Raniry, Muammar Yulian, serta tim admisi Zulaikha dan Hardiansyah.
Membuka Wawasan Santri tentang Perguruan Tinggi
Kegiatan diawali dengan rangkaian sambutan dari kedua pihak. Dari Azzanjabil, sambutan disampaikan oleh Pimpinan Dayah Terpadu Jami’ah Azzanjabil, Abiya Muhammad Najid Akhtiar, dan Kepala MA Azzanjabil, Aulia Rahmah.
Sementara dari pihak UIN Ar-Raniry, sambutan disampaikan oleh Prof. Syafrilsyah selaku perwakilan pimpinan universitas, Muammar Yulian selaku Koordinator Admisi, serta Zulaikha dari Tim Admisi UIN Ar-Raniry.
Dalam sambutannya, Abiya menyampaikan bahwa kunjungan ini tidak hanya bertujuan mengenalkan dunia perguruan tinggi kepada santri, tetapi juga mempererat hubungan historis dan keilmuan antara Azzanjabil dan UIN Ar-Raniry.
“UIN Ar-Raniry memiliki sejarah yang panjang dengan Azzanjabil. Waled, sebelum melanjutkan perantauan ke Mesir, merupakan mahasiswa IAIN Ar-Raniry dan pernah menjadi asisten dosen. Apalagi pada masa itu, untuk menyelesaikan pendidikan dari tingkat sarjana muda hingga doktorandus membutuhkan waktu yang panjang. Proses keilmuan yang panjang tersebut tentu sangat membentuk karakter akademik beliau. Begitu juga Ummi, yang merupakan sarjana Pendidikan Bahasa Inggris IAIN Ar-Raniry sebelum melanjutkan studi Diploma Pendidikan Islam ke Malaysia."
"Sedikit banyak, ilmu yang kita miliki hari ini juga merupakan bagian dari sanad keilmuan yang sambung-menyambung. Karena itu, tidak berlebihan jika kita menyebut UIN Ar-Raniry dan Azzanjabil sebagai meutaloe wareh. Semoga hubungan ini terus terjaga dan dapat diwariskan kepada generasi berikutnya,” ujarnya.
Kunjungan tersebut sekaligus diharapkan menjadi bekal bagi santri untuk mengenal pilihan pendidikan tinggi dan mempersiapkan masa depan sejak dini.
Mendapatkan Informasi Langsung dari Tim Admisi
Dalam kesempatan tersebut, para santri mendapatkan penjelasan langsung dari Koordinator Admisi UIN Ar-Raniry, Muammar Yulian, dan tim admisi mengenai berbagai informasi yang berkaitan dengan penerimaan mahasiswa baru.
Para peserta memperoleh kesempatan untuk mengetahui lebih jauh tentang jalur penerimaan mahasiswa baru, persyaratan admisi, pilihan program studi, beasiswa, mekanisme pendaftaran, dan informasi akademik lainnya.
Penyampaian informasi secara langsung dari pihak kampus memberikan kesempatan kepada santri untuk memperoleh informasi yang lebih akurat sekaligus mengajukan pertanyaan mengenai berbagai hal yang berkaitan dengan rencana studi mereka setelah lulus.
Santri Didorong Memiliki Orientasi Akademik yang Lebih Jelas
Kunjungan akademik ini juga menjadi bagian dari upaya Azzanjabil membangun orientasi pendidikan lanjutan bagi santri. Terutama bagi santri kelas akhir, masa menjelang kelulusan merupakan tahap penting untuk menentukan pilihan pendidikan, bidang keilmuan, dan arah pengembangan diri.
Kepala MA Azzanjabil, Aulia Rahmah, menyampaikan bahwa pengalaman melihat langsung lingkungan perguruan tinggi dapat membantu santri mengenali pilihan mereka dan mempersiapkan langkah setelah menyelesaikan pendidikan di madrasah.
“Santri perlu memiliki gambaran yang jelas tentang apa yang ingin mereka tempuh setelah lulus. Dengan melihat langsung lingkungan kampus dan mengenal berbagai pilihan bidang keilmuan, mereka diharapkan lebih siap menentukan pilihan serta mempersiapkan diri, baik secara akademik maupun mental,” ujarnya.
Senada dengan hal tersebut, Muhammad Afdhal, selaku ketua angkatan kelas akhir sekaligus Bendahara OSDA Putra, menilai kunjungan tersebut memberikan pengalaman dan wawasan baru bagi para santri.
“Bagi kami, kunjungan ini memberikan pengalaman yang berbeda karena kami bisa melihat langsung suasana perguruan tinggi dan mendapatkan informasi tentang berbagai pilihan pendidikan. Khususnya bagi kami yang akan segera lulus, informasi ini sangat bermanfaat untuk menentukan pilihan dan mempersiapkan langkah setelah dari Azzanjabil,” ujarnya.
Dari Pesantren Menuju Perguruan Tinggi
Bagi santri Azzanjabil, kunjungan ke UIN Ar-Raniry bukan sekadar kesempatan untuk melihat lingkungan kampus. Kegiatan ini menjadi bagian dari proses mempersiapkan transisi dari kehidupan pendidikan pesantren menuju dunia perguruan tinggi.
Melalui interaksi langsung dengan pimpinan dan tim admisi universitas, santri diharapkan memiliki pemahaman yang lebih baik mengenai pilihan pendidikan yang tersedia serta mulai menyusun rencana akademik dan karier mereka setelah menyelesaikan pendidikan di Azzanjabil.
Kunjungan tersebut juga memperluas hubungan kelembagaan antara Dayah Terpadu Jami’ah Azzanjabil dan UIN Ar-Raniry dalam bidang pendidikan dan pengembangan akademik santri.
Setelah mengikuti rangkaian kegiatan selama kurang lebih dua jam, kunjungan akademik ditutup dengan tur kampus hingga pukul 12.00 WIB.
Bagi Azzanjabil, mengenalkan santri kepada dunia perguruan tinggi bukan sekadar berbicara tentang kampus mana yang akan dipilih, tetapi tentang bagaimana santri mulai memahami ke mana mereka akan melangkah, bidang apa yang ingin mereka tekuni, dan persiapan apa yang harus dilakukan untuk mencapainya.